Yang ditanya malah tertawa mendengar kepedean Toni yang berlebihan itu.
“Pasti ingetlah sama anak kecil yang manja dan cengeng yang asik banget buat dijailin” jawab Toni asal
Tiba-tiba Esti datang menghentikan percakapan Toni dengan Alvi. “Kakak lo Fan?” tanya Esti yang baru keluar dari dapur dan membawa minuman dingin serta beberapa makanan ringan.
“Iya Ti. Kak kenalin , dia Esti yang sering aku ceritain ke lo tempo hari”
“Cerita tentang gue? Cerita apaan Fan? Cerita yang aneh-aneh ya? selidik Esti
“Ups, salah ngomong deh” Ucap Fani sekenanya.
“Udah-udah mending belajarnya langsung dimulai aja!” Toni duduk tepat berhadapan dengan Lea. Lea terlihat salah tingkah dan dibenak hatinya ada perasaan senang karena itu berarti Lea memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Toni sekaligus terselip perasaan takut karena mengingat kesepakatan dengan sahabatnya.
Tak terasa dua jam sudah mereka belajar kelompok dengan Toni. Sekilas Toni menatap Lea dengan tatapan bingung , kemudian Dia mengalihkan tatapannya kearah Esti. Sudah lama Fani menceritakan tentang pribadi Esti yang sabar , tegar menjadi tulang punggung keluarganya , dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Dari cerita-cerita Fani tentang Esti, Ada rasa penasaran Toni untuk bertemu langsung dan kenal lebih jauh dengan Esti. Dia sangat kagum dengan sosok Esti.
Dua Minggu sudah kelompok belajar “FEMALE” mendapat bimbingan dari Toni. Banyak perubahan terhadap nilai-nilai mereka dikelas.Bukti Hasilnya memuaskan dalam Ulangan Harian. Banyak perubahan pula terhadap perasaan Lea , Toni , dan Esti.
“Le, lo kenapa sih suka senyum-senyum sendiri kalau liat ka Toni , sekarang ka Toni bukan Si Cowok Cute di Kafe Barcode , tapi Si Cowok Cool sang Guru Pembimbing.” Ujar Ervina . Lea tersadar dari lamunan dan berusaha berkata jujur kepada Ervina ”Gue makin suka sama Toni, gue rasa sekarang jadi sayang. Salah gak sih perasaan gue ini , Vi? ”. “Kalo perasaan itu gak pernah salah Le, tapi lo inget kan kesepakatan kita ? Tapi sebagai sahabat, mending ungkapin perasaan lo ke Ka Toni, diterima atau gak urusan belakangan” saran Ervina. “Gitu ya Vi ? terus gimana kalau temen-temen yang lain tau? Belum tentu mereka ngerti kayak kamu Vi. ”tanya Lea bingung.”Kalau mereka sahabat yang baik , pasti mereka ngerti kok. Tenang aja Le !” ucap Ervina meyakinkan. Lea teringat bahwa besok adalah jadwal belajar kelompok, Artinya itulah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kak Toni.
Esok harinya waktu terasa sangat cepat berlalu , belajar kelompok mereka telah berjalan selama dua jam dan ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk dibimbing oleh Toni. Biasanya setelah selesai belajar, mereka makan siang bersama. Tapi kali ini Esti pamit pulang lebih dulu karena harus mengirimkan kue buatan ibunya ke Toko jajanan pasar di daerah Jakarta Selatan. “Guys, maaf banget gue balik duluan ya ! urgent banget gak ada yang bantuin ibu dirumah. Ka Toni, pamit pulang ya !” pamit Esti. “Kamu mau Kakak anterin Ti ? Kamu lagi buru-buru kan?”.“Iya sih Ka, tapi Esti gak enak sama yang lain. Esti biasa naik angkutan umum kok”.”Gak apa-apa kali Ti, kita ngerti kok kamu lagi buru-buru jadi kalo ada cara sampe lebih cepat, kenapa ditolak? ”ujar Fani. Esti tidak punya alasan untuk menolak tawaran Toni. Akhirnya Toni mengantarkan Esti pulang dengan motor sport kesayangannya yang tidak pernah dinaiki perempuan selain adiknya, Fani. Ada perasaan aneh yang menghinggapi hati Toni dan Esti, jantung mereka berdebar lebih cepat dan darah mereka seakan naik ke kepala hingga membuat wajah mereka merah semu. Akhirnya mereka berdua sampai dirumah Esti , Ternyata Toni juga bersedia membantu ibu Esti untuk mengantarkan kue.Setelah selesai mengantar kue, Toni dan Esti memutuskan untuk makan di Cafe Barcode karena mereka belum sempat makan siang.“Esti, apa kamu sedang dekat dengan seorang laki-laki?” tanya Toni tiba-tiba. Esti bingung dengan pertanyaan Toni, tapi dia tetap menjawabnya. “Enggak Ka, Aku terlalu sibuk dengan kepentingan lain daripada dekat dengan laki-laki. Emangnya kenapa ka?”.”Gak apa-apa ko Ti, Aku Cuma bingung dengan perasaanku. Ada yang aneh, ada yang beda. Aku gak bisa memejamkan mata, gak bisa berhenti melengkungkan bibir. Gak bisa menghapus rautmu dari otakku. Kurasa aku jatuh cinta, pada peri kecil yang kurasakan keajaiban serbuk peri cintanya”ungkap Toni.
Esti benar-benar takjub dengan keberanian Toni untuk mengungkapkan perasaan padanya. Dia tidak menyangka jika Toni menaruh hati padanya. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Esti pun sempat merasakan apa yang dirasakan Toni, tapi Esti pandai menghindar dari perasaan yang kadang menyesakkan dadanya itu. Dengan bijaksana dan tidak bermaksud menyakiti hati Toni, ia menjelaskan tentang kesibukannya yang membuatnya tidak memiliki waktu untuk senang-senang dan tentang kesepakatannya dengan sahabat-sahabatnya. Akhirnya Toni mengerti apa maksud Esti menjelaskan hal-hal tersebut. Toni tidak merasa kecewa atas keputusan Esti, dia malah makin mantap dengan pilihan hatinya. Dia yakin dihari dan kesempatan lain, dia pasti bisa mendapatkan hati Esti.
Ketika mereka sedang asik mengobrol dan menyantap makanannya, tiba-tiba Lea menghampiri mereka dengan wajah merah padam seperti menahan tangis.
“Lea, kamu kenapa ? kamu ada masalah apa? Cerita sama aku Le !”. Tanya Esti khawatir. Lea hanya menggelengkan kepala dan tidak sanggup untuk menahan air matanya lebih lama lagi. Dia setengah berlari menjauh dari Esti dan Toni. Hanya Toni yang mengerti penyebab Lea menangis ,sekejap saja Toni diselimuti rasa bersalah.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact