Selasa, 26 Februari 2013 0 komentar

CONTOH CERPEN Part 1


   Judul Cerpen :           "Complicated"    
     Kerangka Karangan
   - 6 Orang Sahabat
   - Pulang dan Pergi Sekolah bersama
   - Memiliki tempat favorite yang sama (Cafe BARCODE)
   - UN semakin dekat
   - Fokus Belajar dan membuat perjanjian untuk tidak jatuh cinta
   - Membentuk sebuah kelompok belajar (FEMALE)
   - Kelompok Belajar tidak berjalan efektif
   - Sepakat untuk memanggil guru pembimbing
   - Guru Pembimbing adalah salah satu kakak sahabatnya (Toni, Kakak Fani)
   - Salah satu dari mereka (Lea) suka pada guru pembimbing (Toni)
   - Toni suka pada Esti
   - Esti menolak karena mengingat perjanjiannya dengan sahabat-sahabatnya


     Lea tersenyum puas melihat hasil karya bersama sahabatnya dalam mendekorasi ulang kamarnya. Sisa liburan semester ganjil kali ini dihabiskan untuk mempersiapkan dekorasi kamar Lea . Mulai dari memilih warna cat , membeli pernak – pernik kamar , sampai menata ulang barang-barang . Mereka sangat antusias dan sama sekali tidak keberatan melakukan pekerjaan itu. Bagaimana tidak, mereka telah menganggap kamar Lea adalah basecamp tempat mereka mengerjakan tugas , bermalas-malasan, membicarakan banyak hal, sampai tempat menginap saat mereka jenuh dengan keadaan rumah masing-masing. Persahabatan mereka begitu dekat, akrab, bahkan “rumit”. Pasti rumit menyatukan 6 orang yang memiliki karakter saling bertolak belakang , tidak jarang mereka bertengkar, perang dingin sampai berhari-hari. Tapi dari hal yang rumit itulah persahabatan mereka awet selama tiga tahun sampai sekarang.Setelah mereka selesai mendekorasi kamar Lea , mereka menghempaskan tubuh mereka diatas kasur Lea yang empuk dan cukup luas untuk menampung tubuh 6 orang sekaligus.
“Yeah, akhirnya selesai juga kerja rodhi kita untuk none Belanda yang satu ini.”ujar Margaret
“Ih enak aja ! Gue kan enggak maksa kalian ya buat dekorasi kamar gue, Cuma minta minta tolong loh.” bela Lea
“Iya sih minta tolong,tapi maksa.Pake ada ancaman enggak boleh main, nginep dan ngerjain tugas dikamar lo lagi.”jelas Fani
“Hahaha itu kan cuma gertakan, kalau gak begitu pasti kalian banyak alasan deh, Padahal kan buat kebaikan kalian juga.”balas Lea
“Tapi kan gue jadi tunda-tunda makalah karya ilmiah gue ya Le , Cuma buat kerumah lo dan temenin muter-muter mall cari aksesoris kamar. Padahal kan makalahnya ditunggu pas hari pertama masuk sekolah semester genap.”gerutu Ervina

Esti tertawa kecil dan berusaha menengahi mereka, “Yaudahlah gak usah dipermasalahin lagi guys! Toh kita juga seneng-seneng kan? Puas juga kan dengan hasil kerja kita mendekor kamar Lea? Besok gantian ya dekor kamar gue! ”

ENGGAK !!Mereka serempak menjawab.

Hari pertama masuk sekolah di semester genap , seperti biasa Mereka berangakat bersama-sama karena rumah mereka searah  dan beberapa saling berdekatan, hanya berbeda beberapa blok. Kali ini Alvina yang menjemput mereka dengan mobil APV Silver yang dikendarai oleh supir keluarganya.Setelah bel masuk berbunyi, wali kelas XII IPA2 pun masuk memberikan pengarahan dan beberapa pengumuman sehubungan dengan UN dan UAS yang semakin dekat. Ibu Nur, wali kelas mereka menyarankan agar membentuk kelompok belajar. Tujuannya agar kami berbagi ilmu dan bertukar informasi, serta tidak jenuh dibanding belajar sendiri.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, mereka bergegas ke parkiran belakang dan menghampiri Pak Dito, supir keluarga Alvina yang setia menunggu hingga jam sekolah berakhir.Kini giliran rumah Alvina lah yang menjadi basecamp bergilir.“Sumpah ya cape banget hari ini, padahal belum belajar efektif.”keluh Alvina.”Tau tuh , guru-guru pada ngebut banget kasih SKL, padahal nih ya kita tuh butuh Strategi Kelulusan, bukan Standar Kelulusan. Bayangin aja ya tiga tahun SMA cuma ditentuin lewat UN + embel- embel 20 paket soal yang beda, baru ngebayangin aja bikin otak langsung jenuh, gimana dipikirin?” jelas Fani. “Dipikirin lah Fan, gue sih pengen dan harus jadi salah satu lulusan terbaik sekolah ini.”sambung Ervina dengan bangganya.

“Percaya diri dan berambisi sih bagus, tapi usahanya mana? Realistis dong Ervi !”sahut Margaret. “Ervi berusaha membela diri “Parah lo sama temen sendiri omongannya pedes banget, emang lo kira gue selama ini enggak realistis? Gue udah belajar serius, les dimana-mana, masa masih dibilang kurang usaha”. “Gue sekedar mengingatkan ko, juara kelas aja belum pernah kan?masa langsung ambisius jadi lulusan terbaik?”balas Margaret. Alvina berusaha melerai perdebatan mereka,”Ih kalian selalu deh debat yang ujung-ujungnya perang dingin berhari-hari. Daripada debat, mending kita cari yang segar-segar yuk di Kafe favorit kita!”.

“Setuju tuh! Sekalian omonginkelompok belajar kita ya !”sambung Esti . Selama 30 menit dari rumah Alvi , mereka tiba di Kafe yang bernama “Barcode”favorit mereka. Mereka sangat menyukai Kafe tersebut , karena menurut mereka tempat itulah yang sangat tepat untuk “Refreshing” setelah jenuh berkutat dengan angka, rumus-rumus , dan teori-teori yang dipelajari di sekolah. Refreshing ala anak SMA tentunya, apalagi kalau bukan melirik mahasiswa keren,tampak supel dan terkesan dewasa. Sore itu, kafe sangat ramai, bahkan beberapa gerombol tampak mengantre dipintu depan. Untung mereka sudah mengantisipasi kemungkinan itu.Mereka datang awal, tepat 20 menit setelah azan Magrib berkumandang.

“Mau pesen apa aja nih ?“ Alvi membuka daftar menu, siap menuliskan pesanan.

“Aku kayak biasa ya Al !” sahut Esti

“Emang biasanya kamu pesen apa ti?Aku kan gak kerajinan perhatiin kamu setiap makan.”jawab Alvina polos.

“Aduh Alvi, siapa juga yang nyuruh kamu perhatiin Esti makan? Biasanya kan kamu yang selalu tulis pesanan kita, masa gak inget sih yang selalu dipesen Esti? ” tukas Lea

“Emang ya?Aku cuma ingat makanan favorit aku di Kafe ini, nasi goreng seafoodnya enak banget. Kamu aku pesenin itu aja ya ti! pasti kamu suka juga deh.”jawab Alvi

“Jangan ! Alvi parah banget sih, mau bikin Esti sesak napas dan masuk Rumah Sakit lagi ? ” cegah Fani

“Loh kamu tuh yang parah , Alvi kan cuma nawarin makanan kesukaan Alvi, emang bahaya apa? Alvi aja setiap kesini makan itu, sampai sekarang gak kenapa-kenapa ” bela Alvi.

“Alvi sayang, makanan kesukaan kamu gak bahaya kok, tapi masalahnya Aku itu alergi seafood.Nanti langsung sesak napas dan gatal-gatal sehabis makan seafood. Alvi lupa ya?” jelas Esti

“Ya ampun Alvi bodoh banget ya lupa sama hal penting kayak gitu, maaf ya Esti !”

“Iya gak apa-apa kok Alvi , Oh iya guys gimana nih kelompok belajar kita? Bagusnya dikasih nama apa ? ”tanya Esti

“Gimana kalau Clever ?atau Smarter ?” saran Ervina

“Terlalu ambisius, kurang pas buat kita. Gimana kalau vini vidi vici ? ”sahut Margaret

“Ambisius? Lo nyindir gue? Lagian vini vidi vici itu moto hidup lo kan? lebih gak pas buat kita, mendingan Clever kemana-mana deh. ”

“Hem kalian mulai deh debat kusirnya, kayak pejabat waktu sidang koalisi. Kita tampung dulu ya saran kalian !tunggu saran yang lain juga, terus nanti kita voting.” Esti berusaha menengahi.

Tiba-tiba Lea sontak berdiri dan berkata, “Aku dapet nama yang pas buat kitanih !”Tingkah Lea mengejutkan mereka, bahkan beberapa orang di Kafe itu pun menoleh kearah mereka karena tingkah Lea yang menarik perhatian.“Gimana kalo FEMALE? Fani, Esti, Margaret, Alvi, Lea, Ervi. Keren kan?”lanjut Lea.

“Wah setuju tuh !kreatif dan pas buat kita.”respon Esti

“Itu sih bukan kita banget, tapi emang kita, cuma main kata aja.Tapi boleh lah daripada Clever, Smarter atau vini vidi vici”sahut Fani.

“Eh Le, itu kan cowok yang kamu bilang cute dulu.”kata Ervina setengah berbisik pada Lea saat melihat sosok favorit Lea melenggang masuk. “Dia ke meja arah jam 9”. Pandangan Lea berlari kearah yang dikatakan Ervi. Benar, Ia pernah beberapa kali melihat cowok itu . Pertama di Kafe ini Minggu lalu, lalu dibioskop , dan terakhir di depan sekolahnya. Sayang waktu itu Lea tidak sempat menyelidiki kenapa cowok itu ada di depan sekolahnya. Cowok itu juga sepertinya langganan Kafe disini, apalagi di akhir Minggu.Lea berani bertaruh cowok cute itu adalah Mahasisiwa Kampus diseberang Kafe ini. Dilihat dari gerak-gerik, dandanan , teman- teman, dan tentu saja kafe yang selalu jadi tempat nongkrong favorit Mahasiswa / i kampus tersebut.Dimeja Lea , pembicaraan terus berlanjut. Tapi pikiran dan pandangannya tidak beranjak dari  meja arah jam 9 , tempat cowok itu berbincang – bincang seru dengan teman-temannya. Si cowok cute itu tertawa… Menoleh ke kiri , dan tatapannya bertemu dengan mata Lea. Sontak Lea salah tingkah dan merasa tertangkap basah diam-diam sedang memperhatikan cowok itu.

Diarah lain, Toni pun merasa sejak tadi sedang diperhatikan oleh seseorang. Ia melongok meja di pojok ruangan. Ada enam cewek yang dengan  mudah ia kenali sebagai anak SMA. Salah satu dari mereka , tepatnya yang paling cantik dengan rambut lurus, terurai sempurna tengah melihat kearahnya. Sangat Nampak salah tingkahnya, tapi Toni membalasnya dengan senyuman.Senyum Mahasiswa berpengalaman membuat cewek terpesona.Lea mendapat sinyal – sinyal positif dari Si Cowok cute itu. Dia berharap lain waktu ada kesempatan bertemu hanya berdua dan memulai pembicaraan atau bertukar nomor handphone. Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam , mereka segera pulang kerumah masing-masing dan beristirahat , mengingat besok masih ada pendalaman materi dihari Sabtu yang semestinya sekolah mereka libur dihari tersebut.

Sabtu pagi , sekolah tidak terlalu ramai karena hanya ada kelas 3 yang masuk dan belajar untuk pendalaman materi. Kelompok belajar “FEMALE” pun berkurang satu karena Esti tidak masuk sekolah demi merawat ibunya yang sedang sakit. Satu jam pendalaman materi berlalu, kemudian jeda untuk waktu istirahat 30 menit. Ketika jam istirahat, mereka melihat beberapa anak perempuan  sedang asik berbicara tentang cowok. Malah salah satu diantaranya menangis, konon katanya Si cewek itu menangis karena putus hubungan dengan pacar yang katanya sudah 2 tahun lebih menjalin hubungan  dengannya. Melihat teman-teman lain sering patah hati, menangis karena cinta , konsentrasi belajar terganggu , mereka jadi ragu untuk memiliki pacar ditahun terakhir SMA ini. Ervina mulai membuka pembicaraan, “Gue prihatin deh sama kebanyakan anak SMA sekarang,mereka gak bisa prioritasin hal yang lebih penting dulu, gak bisa manage perasaan , belajar sesuai mood, akhirnya belajar terbengkalai. Padahal UN kurang dari satu bulan lagi. ” “Iya ya, kasihan juga buat temen-temen yang emosinya masih labil dalam penyelesaian masalah, Gitu deh kalau pusat perhatiannya 70% buat cowok , jadi gak beres belajarnya, gak beres juga perasaannya”.sambung Margaret. “Gue ada ide nih !tapi agak gokil sih karena ini sebenernya privasi banget. Kalian setuju gak kalau kita buat kesepakatan ditahun terakhir SMA ini, kita gak boleh pacaran ataupun main perasaan sama cowok?”saran Fani. “Loh kok jadi ngebatasin privasi orang lain sih? Emang efektif cara kayak gitu?”tanya Lea.

“Lo denger sendiri kan Le temen-temen kita tadi ngomong apa? Mendingan fokus belajar aja deh !sekarang tuh prioritas utama kita lulus UN nilai bagus. Kalo menurut gue sih efektif,kalau kita sibuk belajar dan kegiatan yang menunjang pelajaran, pasti kita enjoy aja gak ada cowok disamping kita.”jelas Fani

“Coba tanya Esti ! Esti kan yang lebih bijak diantara kita,Kalau menurut kamu gimana?”saran Lea

“Aku sih setuju, yang dibilang Fani juga bener banget, kalau kita sibuk belajar dan dengan kegiatan positif lain, pasti kita bisa lupain tentang cinta sementara , lagian gak akan lama kok kesepakatan ini. Selesai UN ,kita udah bebas dari kesepakatan.”

“Jadi kalian setuju kah tentang kesepakatan ini ?”Tanya Fani memastikan.

“Sip, Ok , Iya ” Mereka saling bergantian menjawab

Minggu pagi , kelompok belajar “FEMALE” berencana untuk belajar dirumah Lea.

Hari itu langit sangat cerah , tapi semangat mereka lenyap seperti tersapu angin kencang dihari kemarin. Esti berusaha menyemangati mereka , “Hei kawan jangan lemes gitu dong ! semangat lah ! UN gak akan nunggu kalian sampe semangat dan siap tanpa usaha loh.” “Please deh ti, jangan bikin gue tambah unmood deh ! hari ini lagi butuh refreshing tau , penat banget 6 hari full belajar , masa cuma punya 1 hari libur, tetep dipake belajar sih.”gerutu Lea

Alvi dengan polosnya malah mengajak mereka refreshing ke Kafe “Barcode” , “yaudah kita ke Kafe aja yuk ! kan setiap refreshing kita kesitu . Ada milkshake , nasi goreng seafood , kakak mahasisw…” “Diem deh Al !gak ada hang out ke kafe, gak ada yang namanya refreshing , apalagi lirik-lirik mahasiswa. UN tuh sebentar lagi , kalian ngerti gak sih kita itu harus utamain belajar, kemarin-kemarin kita terlalu santai , sekarang gak ada yang kayak gitu lagi !” bentak Ervina

“Eh santai aja deh Vi !gak usah bentak-bentak juga kali sampeinnya, kita juga ngerti dan paham banget . Tapi kalau lagi penat gini percuma juga maksain belajar. Gue sama Alvi mau ke Kafe ,refresh otak dulu , ada yang mau ikut lagi gak ?” jawab Lea

Semua memilih diam, karena takut memperluas perdebatan.

Di Kafe Barcode, seperti biasa ramai oleh gerombolan Mahasiswa/i. Dan terang saja mata Lea berburu ke segala arah mencari si Cowok cute-nya. Karena tidak menemukan sosok yang dicarinya, Lea langsung memesan 2 milkshake coklat .Tidak lama seorang pelayan datang membawa pesanannya dan secarik kertas.“Dari cowok yang ujung itu, Mba” kata si pelayan sambil menunjuk meja yang ia maksud, lalu bergegas pergi.

                                                             TONI

                                                       0857441xxxxx


Lea lumayan takjub membacanya.Beberapa detik berusaha mencari tahu maksud si Cowok cute itu. Diliriknya Toni yang masih tersenyum samar padanya. Lea menyimpulkan , ia tidak boleh melewati kesempatan berkenalan lebih dekat dengan Cowok cute itu. Toni menerima respon dari Lea , Ia lalu melambaikan tangan sekilas dan sebentar saja kembali ngobrol dengan teman-temannya. Tidak lama handphone Toni berbunyi , isyarat ada pesan masuk. Dan pesan tersebut dari nomor yang tidak dikenal dikontak Toni ,



                              Ini aku, Leanina , penerima kertas.salam kenal :)


                                      From :  <0857xxxxx11>


Sms mereka terus berlanjut, ada kedekatan yang terjalin secara tidak langsung, Lea berharap lebih dari kedekatannya saat ini.Tapi Lea sempat ragu karena mengingat kesepakatannya dengan sahabat-sahabatnya.Akhirnya Lea menyembunyikan segala hal tentang kedekatannya dengan Toni dari sahabat-sahabatnya.

Akhir-akhir ini kelompok belajar “FEMALE” tidak berjalan efektif karena mereka tidak pernah lengkap pada saat jadwal belajar kelompok.Terlebih Lea yang sibuk dengan urusan pribadinya.“Akhir-akhir ini kok FEMALE gak pernah lengkap ya? Ada aja alasan supaya mereka bolos belajar kelompok , kan jadi gak asik belajarnya” keluh Alvi. “Tau tuh, mereka pada gak mikirin UN apa ya? Lupa sama ambisi buat lulus UN nilai bagus?”Tanya Ervi heran.

“Yaudahlah guys gak usah dipermasalahin .Mungkin mereka emang lagi ada keperluan yang lebih penting. Udah ah sekarang kita lanjutin aja belajarnya besok ulangan fisika loh !”sahut  Fani.

       Keesokan harinya, kelas XII IPA 2 menjalani ulangan fisika di jam pelajaran ketiga dan dikoreksi sekaligus dibagikan pada jam pelajaran ke empat. “Gimana hasil ulangan kalian?Bagus kah? ”Tanya Margaret. “Bagus darimana?aku mendapat nilai merah , padahal kan kita sudah belajar mati-matian seminggu kemarin ” gerutu Ervi. “Aku juga gak jauh beda nilainya dengan Ervina , Aku kira dengan belajar kelompok, nilai kita ada perubahan,tapi ternyata nihil.”keluh Margaret

“Kayaknya kita butuh metode belajar baru deh atau lebih efektif pake guru pembimbing aja !Aku sih berharap kita jadi lebih bertanggung jawab , jadi diantara kita gak ada yang bolos -bolos lagi” saran Esti. “Tapi cari dimana guru pembimbing yang siap mengajari kita intensif ?dan aku gak mau ya guru pembimbingnya itu yang kolot , tipe guru-guru terdidik yang kelewat pinter buat dirinya sendiri , tapi tidak bisa mentransfer ilmu dan kepintarannya itu ke kita. Yang ada makin gak ngudeng lah kita.” Jelas Lea

“Gue aja deh yang cariin guru pembimbing buat kita, tenang aja selera gue bagus kok.Mencakup semua yang kalian mau, gimana?” inisiatif Fani.

“Oke deh setuju, emang siapa yang mau kamu rekomendasiin jadi guru pembimbing? ”tanya Lea.

“Gimana kalau kakak gue aja ? dia pinter dan asik ko ngajarnya.”sahut Fani

“Emang kamu punya kakak ya Fan ? kok aku gak tau ya ? padahal kan aku temenan sama kamu dari SD ” tanya Alvina penasaran.

“Punya Al, Hem.. mulai deh pikunnya. Dulu kan kamu pernah ketemu , pernah suka kakak ku malah. Semenjak Aku SMP , dia tinggal bersama Kakek ku di Semarang. ”jelas Fani

“Oh Kakak kamu yang cool dan cute itu ya Fan ?Aku suka banget sama senyum manis dan tatapan tajamnya.Sekarang masih cool dan cute kayak dulu gak ya? apa makin nambah? Ya ampun Aku jadi kangen liat dia lagi” seru Alvi.

“Serius Fan? Kakak lo ganteng ? Wah makin semangat deh gue buat bimbingan. Jadi, mulai kapan kita bisa bimbingan? Besok aja deh ya ! Kakak lo bisa kan? ” tanya Lea penasaran.

“Yah bahaya juga ya kalau kakak gue yang jadi pembimbing , yang ada kalian pada caper lagi sama Kakak gue. Gimana mau fokus belajarnya ? Gue rekomendasiin Pak Dodi tetangga gue aja deh ya !” celetuk Fani asal.

“Pak Dodi tetangga lo yang guru SMA Merpati Bangsa kan ? yang suka modusin siswi-siswinya ? Ya ampun please jangan Pak Dodi dong ! itu sih bahaya” sahut Margaret dengan wajah panik.

“Hahaha” Fani tertawa terbahak-bahakmelihat raut wajah Margaret yang setengah panik.

        Akhir pekan ini mereka manfaatkan untuk memulai belajar dengan guru pembimbing yang tidak lain adalah Kakak Fani. Kali ini mereka belajar dirumah Fani. 

“Nah ini ini kak Toni, guru pembimbing kita selama persiapan menghadapi UN. Gimana?sesuai maunya kalian kan? ” canda Fani sambil menggeret kakaknya menuju ruang keluarga, tempat mereka belajar.

“Hai semua” sapa seseorang yang mampu mengalihkan pandangan mereka dari tumpukan buku-buku soal. Lea yang pertama kali merasa tidak asing dengan suara orang itu tidak berani menengok untuk memastikan pemilik suara khas tersebut.

Lea mengisyaratkan Toni untuk diam dan pura-pura tidak mengenalinya. Entah mempunyai ilmu apa seolah Toni mengerti isyarat yang diberikan Lea.

“Kak Toni? Masih inget aku gak ? Kakak gak jauh beda ya. Tetep....” tanya Alvi tiba-tiba.

“Tetep cool dan ganteng ya? ” sambung Toni

Yang ditanya malah tertawa mendengar kepedean Toni yang berlebihan itu.

“Pasti ingetlah sama anak kecil yang manja dan cengeng yang asik banget buat dijailin” jawab Toni asal

Tiba-tiba Esti datang menghentikan percakapan Toni dengan Alvi. “Kakak lo Fan?” tanya Esti yang baru keluar dari dapur dan membawa minuman dingin serta beberapa makanan ringan.

“Iya Ti. Kak kenalin , dia Esti yang sering aku ceritain ke lo tempo hari”

“Cerita tentang gue? Cerita apaan Fan? Cerita yang aneh-aneh ya? selidik Esti

“Ups, salah ngomong deh” Ucap Fani sekenanya.

“Udah-udah mending belajarnya langsung dimulai aja!” Toni duduk tepat berhadapan dengan Lea. Lea terlihat salah tingkah dan dibenak hatinya ada perasaan senang karena itu berarti Lea memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Toni sekaligus terselip perasaan takut karena mengingat kesepakatan dengan sahabatnya.

Tak terasa dua jam sudah mereka belajar kelompok dengan Toni. Sekilas Toni menatap Lea dengan tatapan bingung , kemudian Dia mengalihkan tatapannya kearah Esti. Sudah lama Fani menceritakan tentang pribadi Esti yang sabar , tegar menjadi tulang punggung keluarganya , dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Dari cerita-cerita Fani tentang Esti, Ada rasa penasaran Toni untuk bertemu langsung dan kenal lebih jauh dengan Esti. Dia sangat kagum dengan sosok Esti.

         Dua Minggu sudah kelompok belajar “FEMALE” mendapat bimbingan dari Toni. Banyak perubahan terhadap nilai-nilai mereka dikelas.Bukti Hasilnya memuaskan dalam Ulangan Harian. Banyak perubahan pula terhadap perasaan Lea , Toni , dan Esti.

“Le, lo kenapa sih suka senyum-senyum sendiri kalau liat ka Toni , sekarang ka Toni bukan Si Cowok Cute di Kafe Barcode , tapi Si Cowok Cool sang Guru Pembimbing.” Ujar Ervina . Lea tersadar dari lamunan dan berusaha berkata jujur kepada Ervina ”Gue makin suka sama Toni, gue rasa sekarang jadi sayang. Salah gak sih perasaan gue ini , Vi? ”. “Kalo perasaan itu gak pernah salah Le, tapi lo inget kan kesepakatan kita ? Tapi sebagai sahabat, mending ungkapin perasaan lo ke Ka Toni, diterima atau gak urusan belakangan” saran Ervina. “Gitu ya Vi ? terus gimana kalau temen-temen yang lain tau? Belum tentu mereka ngerti kayak kamu Vi. ”tanya Lea bingung.”Kalau mereka sahabat yang baik , pasti mereka ngerti kok. Tenang aja Le !” ucap Ervina meyakinkan. Lea teringat bahwa besok adalah jadwal belajar kelompok, Artinya itulah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kak Toni. 

Esok harinya waktu terasa sangat cepat berlalu , belajar kelompok mereka telah berjalan selama dua jam dan ini adalah kesempatan terakhir mereka untuk dibimbing oleh Toni. Biasanya setelah selesai belajar, mereka makan siang bersama. Tapi kali ini Esti pamit pulang lebih dulu karena harus mengirimkan kue buatan ibunya ke Toko jajanan pasar di daerah Jakarta Selatan. “Guys, maaf banget gue balik duluan ya ! urgent banget gak ada yang bantuin ibu dirumah. Ka Toni, pamit pulang ya !” pamit Esti. “Kamu mau Kakak anterin Ti ? Kamu lagi buru-buru kan?”.“Iya sih Ka, tapi Esti gak enak sama yang lain. Esti biasa naik angkutan umum kok”.”Gak apa-apa kali Ti, kita ngerti kok kamu lagi buru-buru jadi kalo ada cara sampe lebih cepat, kenapa ditolak? ”ujar Fani. Esti tidak punya alasan untuk menolak tawaran Toni. Akhirnya Toni mengantarkan Esti pulang dengan motor sport kesayangannya yang tidak pernah dinaiki perempuan selain adiknya, Fani. Ada perasaan aneh yang menghinggapi hati Toni dan Esti, jantung mereka berdebar lebih cepat dan darah mereka seakan naik ke kepala hingga membuat wajah mereka merah semu. Akhirnya mereka berdua sampai dirumah Esti , Ternyata Toni juga bersedia membantu ibu Esti untuk mengantarkan kue.Setelah selesai mengantar kue, Toni dan Esti memutuskan untuk makan di Cafe Barcode karena mereka belum sempat makan siang.“Esti, apa kamu sedang dekat dengan seorang laki-laki?” tanya Toni tiba-tiba. Esti bingung dengan pertanyaan Toni, tapi dia tetap menjawabnya. “Enggak Ka, Aku terlalu sibuk dengan kepentingan lain daripada dekat dengan laki-laki. Emangnya kenapa ka?”.”Gak apa-apa ko Ti, Aku Cuma bingung dengan perasaanku. Ada yang aneh, ada yang beda. Aku gak bisa memejamkan mata, gak bisa berhenti melengkungkan bibir. Gak bisa menghapus rautmu dari otakku. Kurasa aku jatuh cinta, pada peri kecil yang kurasakan keajaiban serbuk peri cintanya”ungkap Toni.

Esti benar-benar takjub dengan keberanian Toni untuk mengungkapkan perasaan padanya. Dia tidak menyangka jika Toni menaruh hati padanya. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Esti pun sempat merasakan apa yang dirasakan Toni, tapi Esti pandai menghindar dari perasaan yang kadang menyesakkan dadanya itu. Dengan bijaksana dan tidak bermaksud menyakiti hati Toni, ia menjelaskan tentang kesibukannya yang membuatnya tidak memiliki waktu untuk senang-senang dan tentang kesepakatannya dengan sahabat-sahabatnya. Akhirnya Toni mengerti apa maksud Esti menjelaskan hal-hal tersebut. Toni tidak merasa kecewa atas keputusan Esti, dia malah makin mantap dengan pilihan hatinya. Dia yakin dihari dan kesempatan lain, dia pasti bisa mendapatkan hati Esti.

      Ketika mereka sedang asik mengobrol dan menyantap makanannya, tiba-tiba Lea menghampiri mereka dengan wajah merah padam seperti menahan tangis.

“Lea, kamu kenapa ? kamu ada masalah apa? Cerita sama aku Le !”. Tanya Esti khawatir. Lea hanya menggelengkan kepala dan tidak sanggup untuk menahan air matanya lebih lama lagi. Dia setengah berlari menjauh dari Esti dan Toni. Hanya Toni yang mengerti penyebab Lea menangis ,sekejap saja Toni diselimuti rasa bersalah.


 
;